Senin, 26 Agustus 2019

Akhir Sebuah Cinta

Cinta kepada dunia dan berbagai keindahannya merupakan fitrah manusia. Memiliki istri yang shalihah, anak-anak yang shalih dan shalihah, serta kecukupan sandang, pangan dan papan merupakan idaman setiap mukmin. Dus, dapat berkumpul bersama keluarga, dalam suasana suka dan tak kurang suatu apapun adalah kebahagiaan tersendiri yang tak ternilai harganya. 

Rasa cinta; apa pun bentuknya memiliki energi yang luar biasa. Termasuk cinta terhadap keluarga.


Bermusuhan karena cinta

Tidak ada larangan untuk cinta terhadap dunia; tidak ada larangan untuk saling cinta terhadap sesama, karena semuanya adalah fitrah manusia. Tapi perlu diingat, tidak semua cinta dapat menyatukan kita di akhirat sebagaimana ia menyatukan kita di dunia. Justru sebaliknya, banyak jalinan cinta di dunia yang berujung permusuhan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman : 

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Ayat ini menunjukkan bahwa semua jalinan cinta dan kasih sayang di dunia yang bukan karena Allah maka di akhirat nanti berubah menjadi kebencian dan permusuhan, dan yang kekal abadi hanyalah jalinan cinta dan kasih sayang karena-Nya. Sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim kepada kaumnya, “Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah, hanya untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan di dunia, kemudian pada hari Kiamat sebagian kamu, akan saling mengingkari dan saling mengutuk; dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagimu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/170)

Dalam menafsiri firman Allah di atas, Imam Mujahid berkata, “Setiap jalinan kasih sayang di dunia dalam rangka maksiat kepada Allah akan berubah menjadi permusuhan di akhirat.”

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, "Ada dua orang beriman yang saling mengasihi -di dunia- dan dua orang kafir yang saling mengasihi. Salah satu orang beriman meninggal dunia hingga sampai kepadanya berita gembira akan mendapat surga. Saat itulah dia teringat akan kekasihnya -di dunia-, seraya berdo'a, "Ya Allah, sesungguhnya si Fulan adalah kekasihku. Dia senantiasa menyuruhku untuk taat kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu; menyuruhku untuk berbuat kebaikan dan mencegahku dari mengerjakan kejelekan; dia juga memberitahuku bahwa aku pasti akan berjumpa dengan-Mu. Ya Allah, jangan Engkau sesatkan dia sepeninggalku hingga Engkau memperlihatkan kepadanya apa yang telah Engkau perlihatkan kepadaku dan Engkau ridha kepadanya sebagaimana Engkau ridha kepadaku," Maka dikatakan kepadanya, "Pergilah, seandainya engkau tahu apa pahalanya di sisi-Ku pasti engkau akan banyak tertawa dan sedikit menangis." Imam Ali melanjutkan, "Mukmin yang satunya meninggal dunia dan bertemulah ruh keduanya." Kemudian dikatakan kepada keduanya, "Sungguh masing-masing dari kalian akan diikutkan kepada sahabatnya." Maka mereka berdua saling berkata kepada sesamanya, "Anda adalah teman, sahabat, dan kekasih yang amat baik."

Jika salah seorang kafir meninggal dunia hingga sampai kepadanya kabar buruk tentang neraka yang akan ditempatinya, maka saat itulah dia teringat akan kekasihnya dan berdo'a, "Ya Allah, sesungguhnya si Fulan adalah kekasihku -di dunia- dia senantiasa menyuruhku untuk bermaksiat kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu; menyuruhku untuk mengerjakan kejelekan dan melarangku berbuat baik, dia juga memberitahuku bahwa aku tidak akan pernah berjumpa dengan-Mu. Ya Allah, jangan Engkau tunjuki dia sepeninggalku hingga Engkau perlihatkan kepadanya apa yang Engkau perlihatkan kepadaku dan Engkau murka kepadaku."Imam Ali melanjutkan, "Kafir yang satu meninggal dunia dan bertemulah ruh keduanya." Kemudian dikatakan kepada keduanya, "Sungguh masing-masing dari kalian akan diikutkan kepada sahabatnya." Maka mereka berdua saling berkata kepada sesamanya, "Engkau adalah teman, sahabat, dan kekasih yang amat buruk." (HR. Ibnu Abi Hatim)

1 komentar: